Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) telah memulai kegiatan Inisiasi dan Adaptasi (SIAP) 2020 sebagai langkah awal pengenalan universitas kepada mahasiswa baru angkatan 2020/2021. Tidak seperti SIAP di tahun-tahun sebelumnya, kali ini SIAP 2020 tampil secara adaptif di tengah kondisi pandemi melalui ruang digital. Meski tidak bertatap muka langsung, sivitas akademika baru Unpar tampak bersemangat untuk mengikuti rangkaian Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) sebagai awal dari kegiatan SIAP 2020.

Rangkaian SIAP diawali dengan Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru dan Pembukaan Tahun Akademik 2020/2021 yang diselenggarakan pada Rabu (9/9/2020). Upacara diikuti oleh Senat Akademik Unpar, para pimpinan unit kerja, pimpinan organisasi kemahasiswaan serta perwakilan Yayasan Unpar dan mahasiswa baru dari tiap fakultas. Adapun mahasiswa baru lain menyaksikan kegiatan secara daring melalui apilkasi konferensi video Zoom.

Kegiatan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mengheningkan Cipta, dan Hymne Unpar. Tri Basuki Joewono, Ph.D selaku Wakil Rektor Bidang Akademik menyampaikan Laporan Penerimaan Mahasiswa Baru. Jumlah mahasiswa baru yang bergabung menjadi keluarga Unpar tahun ini mencapai lebih dari tiga ribu mahasiswa. Mereka diseleksi melalui berbagai jalur, baik jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), ujian saringan masuk (USM) maupun ujian masuk bersama (UMB), serta tersebar dalam 17 program studi di 7 fakultas.

Rektor Unpar, Mangadar Situmorang, Ph.D. selanjutnya memberikan sambutan hangat kepada seluruh mahasiswa baru yang turut hadir dalam acara SIAP 2020. Beliau berharap bahwa Unpar dapat menjadi sarana bagi para mahasiswa untuk memiliki masa depan yang lebih cerah serta memberi kemudahan untuk mencapai cita-cita dan kesuksesan di masa mendatang. Tak luput Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim memberikan pesan untuk para mahasiswa agar belajar berkarya dan bekerja di berbagai bidang guna kemajuan bangsa Indonesia.

Sebagai simbolisasi dari PMB, dilakukan prosesi penyerahan jaket almamater untuk dikenakan perwakilan mahasiswa baru oleh para dekan fakultas. Dalam kesempatan ini, Sekretaris Umum Yayasan Unpar Pst. Hendra Kimawan OSC. dan Ketua Senat Akademik Unpar Prof. Bambang Sugiharto turut memberikan beasiswa secara simbolis kepada mahasiswa baru. Acara diteruskan dengan pembacaan Janji Mahasiswa Unpar dan doa oleh Romo Yohanes Driyanto, Drs., LJC.

Talkshow Sindu

Acara SIAP hari pertama memasuki sesi talkshow yang dipandu oleh Ibu Ati dari Pusat Pengembangan dan Karir Unpar (PPK Unpar). Sesi talkshow kali ini mengangkat tema Pengantar SINDU (Spiritualitas Nilai-Nilai Dasar Unpar). Talkshow SINDU menghadirkan empat narasumber yang ikut berbincang mengenai SINDU, yaitu Romo Yohanes Riyanto (Kepala Lembaga Pengembangan Humaniora), Muhammad Arifin Dobson (Alumni Fisika 2014 Unpar), Daniel Pontas (Ketua Senat Mahasiswa 2020), dan Muhammad Hakkinen Malik (Ketua BEM Unpar 2020).

Romo Yohanes kemudian menjelaskan arti SINDU bagi Unpar, yang mana SINDU sendiri bertindak sebagai ciri khas dari kampus jingga ini. SINDU, sebagai nilai dasar dari Unpar, yang membedakan Unpar dengan universitas-universitas lainnya.

SINDU memiliki tiga nilai dasar yaitu (1) Manusia yang utuh (humanum), (2) Cinta Kasih dalam Kebenaran (caritas in veritate), dan (3) Hidup dalam keberagaman (bhinneka tunggal ika). Ketiga nilai tersebut juga wujud harapan bagi masyarakat Unpar untuk hidup sebagai manusia yang seimbang dan utuh, mencintai sesama manusia lain dengan baik, serta menghargai keberagaman yang ada.

Kemudian, dari ketiga nilai dasar tersebut, terdapat pula tujuh prinsip etis dalam SINDU. Ketujuh prinsip etis tersebut adalah keterbukaan, sikap transformatif, kejujuran, keberpihakan pada kaum papa, bonum commune, subsidiaritas, serta nirlaba.

Sementara menurut Daniel dan Malik, pada awalnya pembelajaran tentang SINDU memang membingungkan–– terutama bagi mahasiswa baru yang belum berproses di universitas itu sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, nilai-nilai SINDU akan mulai terasa dan secara tidak langsung diterapkan dalam kehidupan di kampus. Daniel mengatakan bahwa salah satu contohnya adalah kejujuran yang menjadi nilai penting dalam kehidupan berorganisasi. Lain lagi dengan Daniel, Malik menyatakan bahwa contoh yang akan sangat terasa selama berproses di Unpar adalah hidup dalam keberagaman.

“Salah satu contoh lainnya adalah nirlaba, di mana kita tidak harus mengharapkan imbalan berbentuk materi ketika berproses dalam suatu kegiatan,” ujar Arifin ketika ditanya pendapatnya soal SINDU.

Dari ketiga nilai dasar dan ketujuh prinsip etis tersebut, Unpar berharap terutama kepada mahasiswanya untuk dapat hidup sejalan nilai-nilai dasar Unpar tersebut. Dengan begitu, para mahasiswa nantinya dapat menjadi pribadi yang lebih baik bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Talkshow SINDU dilanjutkan dengan aktivitas dinamika kelompok yang diselenggarakan melalui Google Classroom. Melalui paparan dari anggota komunitas akademik Unpar beserta mahasiswa dan mahasiswi sebagai ko-fasilitator, para mahasiswa baru menyelami SINDU melalui empat sesi yang berbeda. Harapannya, SINDU dapat dipahami dengan baik oleh para mahasiswa serta diamalkan dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik di lingkungan Unpar maupun di tengah-tengah masyarakat. (JNS, AKA / DAN – Divisi Publikasi)